Atas Nama Agama

Dari hari ke hari semakin banyak tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama yang terjadi dalam kehidupan umat manusia.Peristiwa pengeboman di berbagai tempat semakin menunjukkan kepada kita bahwa semakin meningkatnya kekerasan yang mengatasnamakan agama tertentu atau yang lebih memilukan hati lagi adalah dengan mengatasnamakan Tuhan. Dengan demikian, maka kita memperoleh gambaran bahwa Tuhan  itu lemah sehingga patut dibela, namun ketika pembelaan itu tidak berhasil maka Tuhan  yang lemah dan perlu dibela itu (seolah) sudah mati. Namun sayangnya, kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan bukan saja terjadi baru-baru ini, melainkan sejak lama. Jauh sebelum masa modern, kekerasan atas nama Tuhan telah menjadi wajah agama.

Di dalam sejarah kekristenan sendiri, para Ksatria Salib melakukan perang melawan orang-orang Turki karena legimitasi teologis yang diberikan oleh Paus Urbanus II atas permohonan Alexius untuk mempertahankan Konstantinopel. Itu hanya salah satu contoh kekerasan atas nama Tuhan lewat perang agama yang mungkin saja juga dimiliki oleh agama-agama lain. Hanya saja di abad ini kekerasan atas nama Tuhan  seolah dilestarikan.

Ideologi dan motivasi akan mempengaruhi tujuan dan sasaran dari sebuah operasi yang dilakukan oleh teroris. Terorisme bukan sekedar bom yang meledak semata tanpa tujuan.Teroris dapat melakukan apa saja, terutama membunuh orang yang mungkin saja tidak ada sangkut-pautnya dengan apa yang sedang diperjuangkan oleh para teroris demi tercapainya tujuan mereka. Teroris juga dapat melakukan provokasi yang represif terhadap pemerintah dan rakyat sehingga mampu memperbesar daya tarik politik alternatif yang mereka ajukan.Terorisme adalah sebuah serangan yang bersumber dari sebuah entitas yang memiliki tujuan politis, agamis atau ideologis tertentu dengan harapan menanamkan rasa takut di tengah-tengah pemerintahan atau masyarakat sehingga entitas tersebut memiliki sebuah daya paksa dan intimidasi terhadap pemerintahan dan masyarakat.Islam tidak melegitimasi kekerasan dalam bentuk apapun, karena Islam memberi rahmat bagi semesta. Wallahu A’lam, salam Zulfa Q

Iklan

Ekonomi Global dalam Bingkai Islam

(Kajian Ushully)

by Zulfa Qur’ani

Ekonomi global semakin kuat masuk ke dalam sistem ekonomi Indonesia seiring dengan dibukanya perdagangan bebas yang akan membolehkan masuknya komoditi internasional, khususnya dari negara-negara maju. Formulanya yang sudah disepakati antara lain dalam skema-skema WTO, SEATO, dan lain-lain. Baru-baru ini yang paling hangat adalah keskatakan dagang China-Asia, ACFTA (Asian-China Free Trade Aggreement). Banyak pihak yang memprotes Indonesia mengikuti ACFTA ini, karena  diyakini akan merusak ekonomi Indonesia, terutama bagi pengusaha ekonomi lemah. Bahkan dikhawatirkan pengusaha besar pun akan terkena imbas dengan kebijakan ini. Mereka bisa berubah hanya menjadi “pedagang”, tidak lagi menjadi produsen karena kalah bersaing dengan produk-produk China. Sudah banyak keluhan dari pengusaha, bahkan dikuatkan dengan berbagai “demo buruh” yang selama ini merasa terzalimi karena pemegang kendali “kekuasaan dan keputusan” begitu saja menerima ACFTA “secara bebas”, tanpa ada persetujuan melalui DPR.

Indonesia dengan SDA (sumber daya alam) yang tersedia dan berlimpah belum mampu untuk bertanding dalam aspek apapun termasuk bidang ekonomi. Dengan penduduk yang besar, sekitar 225. 000.000 ternyata tidak mampu bersaing dengan hanya negara Oman yang berpenduduk hanya puluhan juta jiwa. Sekedar main bola saja selalu kalah sampai-sampai penonton harus ikut masuk lapangan untuk membantu pemain memasukkan bola ke gawang musuh, walaupun hanya menumpahkan kekesalan belaka. Salah satu sebabnya adalah kungkungan ekonomi liberal dan neo-liberalnya yang kian kemari kian terasa semakin melemahkan posisi ekonomi umat.

Kerusakan ekonomi pasti akan terus berlangusng sepanjang ekonomi kita tidak berpijak pada landansan yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Saat ajaran Al-Quarn dan Sunnah ditinggalkan, saat itulah umat Islam akan terpingirkan. Amir Syakib Arsalan telah mengemukakan analaisis ini dengan sangat baik masalah dalam bukunya, Limâdza Ta’akhara Al-Muslimûna wa Taqaddama Gahiruhum?

Adalah kenisyaan kualitas umat dimajukan dan ditingkatkan agar dapat menjadi bagian penting menuju kejayaan Islam. Untuk itu, tanggungjawab intelektual dan moral ulama dalam menghadapi perdagangan bebas ini dipertaruhakan. Oleh sebab itu, fatwa agama  dalam partisipasinya bela agama dan umat yang mayoritas Muslim amat penting. Fatwa agama ini amat penting karena bila kembali merujuk pada Al-Quran, Sunnah Rasul saw, dan kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah yang menjadi teori-teori untuk digunakan ulama dalam menganalisis sumber hukum ternyata dapat menjawab persoalan zaman, termasuk masalah perdagangan bebas ini. Lalu bagimana fikih Islam mampu menjawab tantangan ini?

Dalam kepustakaan fikih Islam ada ang disebut Saddu Al-Dzarî’ah. Sadd artinya menutup dan dzarî’ah artinya jalan; atau arti lengkapnya adalah menutup jalan.  Dzari’ah dapat terjadi melampaui perbuatan atau perkataan, yaitu jalan yang menyampaikan sesuatu kepada yang lainnya. Suatu tangga yang digunakan untuk naik ke atap, misalnya dapat digunakan sebagai dzariah atau jalan. Ali Hasballah (Ushulut Tasyri al-Islami, 1971: 319), menyampaikan definisi Sadd-dzariaha ialah “Man’u ma yajuzu min dzalik idza kana muwashshalan ila ma la yajûz”, melarang sesuatu yang boleh bila menyampaikan kepada yang tidak boleh. Sementara Wahbah Az-Zuhaili mentakan, “Huwa ma yatawashshalu ilas syai al-mamnu’, al-musytamilu ila mafsadatin,” apa yang menyampaikan sesuatu pada yang dilarang dan merusak. Ibn al-Qayyin, lebih sksplisit, sebagaimana dikuitp oleh Wahbah ialah, “Al-Maqshud minas-syai’ laisa minal umum wa innama yufhamu min qarinatil-kalam at-tahadduts minad dzari’ah fi ahkamis-syari’ati min tha’athin aw ma’shiyatin”. (Az-Zuhaili, Ushul Fiqh, II, 1986: 87).

Kaidah ini secara umum memberikan pengertian bahwa dalam kerangka fikih Islam yang boleh dilakukan oleh umat Islam bukan hanya persoalan haram atau tidak, namun juga harus dipertimbangkan sejauh mana implikasinya bagi bangsa dan umat Islam khususnya. Prinsip ini misalnya dapat ditemukan dalilnya seperti dalam Al-Quran, seperti tercantum pada Al-An’am (6: 108) dan hadis yang menunjukkan tentang saddud dzari’ah. Hadis-hadis dimaksud antara lain: larangam talaqquyur rukban (perkengkulakan), larangan mengembala di sekitar perbatasan, larangan ihtikar (meinimbun), dan lain-lain. Selain itu, ada atsra Umar bin al-Khattab yang saat menjadi khalifah pernah melarang dan akan meengusir seorang pedangan di Madinah karena ia menjual dengan harga lebih murah dibandingkan harga umum di pasar (dengan cara obral). Beliau menganggap cara-cara seperti itu merugikan kepentinganm umum. Di samping itu, ada perintah implisit bahwa umat Islam justru harus lebih dekat dengan sesama Muslim dibandingkan dengan orang lain seperti dalam perintah perlunya membangun ukhuwah (Al-Hujurat/49:10), perintah ta’awun (Al-Ma’idah/5: 2), tidak mengandalkan orang lain atau membangun kemandirian (Hud/11: 113).Dalil-dalil itu dapat digunakan untuk menetapkan ketentuan bahwa suatu yang boleh pun, apalagi yang dekat kepada haram dan atau membawa kerugian,  tidak boleh dilakukan bila merugikan atau tidak memberikan keuntungan kepada umat. Inilah prinsip Sadd Al-Dzari’ah.

Implemantasi Saddu Al-Dzariah dalam keseharian kita ialah bahwa bila seseorang akan membeli barang, baik yang besifat konsumtif atau produktif, maka harus mengutamakan produk lokal, nasional, dan dalam negeri. Sebab, cara inilah yang akan lebih menguntungkan bagi perkembangan ekonomi bangsa sehingga ketahanan ekonomi dalam negeri dapat lebih kuat.

Dalam sebuah harian diberitakan (Kompas-14 Agustus 2009) bahwa Indonesia membayar bahan makanan impor sebesar hampir 5 milyar Dolar per tahun atau kuarng lebih 50 trilyun Rupiah; suatu jumlah yang tidak sedikit. Untuk kebutuhan garam saja kita masih impor sebesar 900 M pertahun. Pabrik tekstil di Indonesia dan garmen banyak sudah tutup, padahal para pekerjanya adalah umat Islam juga. Dahulu kita meminjam modal yang digunakan untuk membangun pbarik di sini sehingga terbuka lapangan pekerjaan. Sekarang malah dikirim barangnya sehingga para pekerja di-PHK.

Inilah contoh kasus yang dilihat dari aspek Sadd Al-Dazariah tidak menguntunghkan umat Islam. Memang belanja barang-barang impor tidak haram. Namun, pertaanyaannya ialah siapa yang akan kita tolong dengan belanja yang kita lakukan? Apakah orang China daratan sana, atau orang Cimis, Tasik, Majalaya, Bekasi, Berastagi, Sambas, Garut atau Majalengka, Yogya, Surabaya, Medan, dll yang merupakan saudara-saudara kita? Hatilah-hatilah berbelanja belilah produk lokal, demi membela ekonomi bangsa dan umat ini. Wallahu A’lam bishshawab. Salam Zulfa Q

Ayo Damai Timur Tengah

by Zulfa Qur’ani

Pada periode awal Islam, banyak Muslim yang disiksa dengan kejam dan brutal, dianiaya dan ditindas karena keimanan mereka oleh orang-orang kafir. Pria, wanita dan anak-anak semua menderita kekejaman mengerikan tersebut. Sebagai contoh beberapa Muslim sampai dibaringkan diatas bara panas, sementara yang lain dibaringkan diatas pasir yang terik dan batu ditindihkan diatas mereka. Kemudian terdapat beberapa Muslim sampai kakinya terkoyak, sehingga persis tubuh mereka menjadi dua bagian. Selama dua setengah tahun Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan semua sahabat beliau terpaksa bertahan di lembah, dimana mereka diboikot dan dijauhi dari masyarakat, sehingga mereka tidak memiliki akses untuk makanan, minum dan perbekalan lainnya. Selama berhari-hari mereka tetap dalam kelaparan dan kehausan. Anak-anak Muslim tanpa henti menangis dalam penderitaan dan putus asa. Tapi tetap saja orang-orang kafir tidak menunjukkan belas kasihan dan kasih sayang apapun. Dalam menanggung kekejaman dan pembatasan-pembatasan tersebut, umat Islam terkadang meminta izin kepada Nabi Muhammad saw untuk melawan dan membela diri dengan kekuatan mereka, namun pada setiap kesempaan Nabi Muhammad saw menolak setiap permintaan tersebut, dan sebagai gantinya beliau memberi nasihat supaya terus bersabar.

Adalah hal yang alamiah bahwa ketika seseorang mencapai titik dimana ia sadar bahwa maut telah mengintainya disetiap penjuru, dalam keadaan putus asanya itu dia akan mencoba untuk melawan dan membunuh lawannya sebelum meninggal. Namun seperti yang saya katakan pada setiap kesempatan Nabi Muhammad saw memerintahkan para pengikutnya untuk menahan diri dan bersabar meskipun mereka menghadapi keadaan yang sangat ekstrem. Beliau menasehatkan untuk bersabar karena beliau mengatakan bahwa Allah taala tidak mengizinkannya untuk melawan musuh-musuh Islam. Seorang orientalis Italia terkenal, Laura Veccia Vaglieri menulis tentang hal ini masalah ini dan membuktikan bahwa:

Setelah bertahun-tahun penindasan kejam dan berbagai intimidasi, sebagian besar umat Islam hijrah dari Mekkah. Kemudian setelah beberapa lama nabi Muhammad saw sendiri hijrah dengan para sahabatnya ke kota Madinah. Namun orang-orang kafir Mekkah tetap saja tidak membiarkan umat Islam untuk hidup damai bahkan setelah hijrah. Sekitar dua tahun kemudian orang-orang kafir menuju Madinah dan melancarkan serangan keji terhadap kaum Muslimin. Tujuan mereka hanyalah untuk menghapus Islam dan semua pemeluk Islam sekali dan untuk selamanya. Pasukan orang-orang kafir sangat besar dan kuat dan mereka datang dengan perlengkapan senjatan dan artileri yang besar. Sebagai perbandingannya hanya ada sekitar 300 orang Islam sedangkan kekuatan dan persenjataan mereka yang setara hampir tidak ada. Namun terlepas dari perbedaan signifikan dalam hal persiapan, pada waktu itulah Allah taala memerintahkan umat Islam untuk pertama kalinya melawan dan membela diri dari permusuhan dan kekejaman musuh. Izin ini disebutkan dalam Al-Qur’an Surah 22 ayat 39-40 yang berbunyi:

“Telah diizinkan bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Dan sesunngguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” . Dan sekiranya tidak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa.

Jadi, jelas bahwa Umat  Islam akhirnya diberi izin untuk membela diri terhadap musuh Islam adalah karena dalam kondisi tertentu yang ekstrim, namun demikian izin tersebut diberikan dalam kondisi tertentu yang menyertainya seperti terbukti dari ayat-ayat yang baru saja dikutip. Pertama, Allah taala menyatakan izin tersebut diberikan karena adanya kekejaman yang melampaui batas dan orang-orang Islam telah terusir dari rumah mereka. Mereka tidak hidup dengan damai bahkan setelah hijrah, sebaliknya musuh tanpa ampun mengikuti mereka dalam upaya untuk menghancurkan mereka sama sekali. Satu-satunya “kejahatan” yang dilakukan oleh Umat Islam yang tertindas adalah hanya karena mereka menyatakan keyakinan mereka terhadap Satu Allah dan menyembah-Nya. Selain itu ayat-ayat ini menjelaskan bahwa izin tersebut tidak hanya diberikan untuk melindungi umat Islam saja, melainkan meliputi pengikut semua agama supaya terlindungi dilindungi dan terjaga.

Sejarah menjadi saksi dari fakta-fakta bahwa Empat Khalifah Rasulullah saw telah menerapkan ajaran sejati beliau dan selalu memegang teguh ajaran Alquran sebagai prinsip pedoman mereka selama periode masing-masing khilafah. Tak satupun dari mereka yang pernah memprovokasi peperangan tunggal. Peperangan yang terjadi hanya untuk membela diri. Dalam peperangan selanjutnya yang diperjuangkan oleh para raja dan penguasa Muslim kenyataannya sangat sedikit yang merupakan perang agama, sebaliknya perang mereka berdasarkan perbedaan politik dan ambisi. Di dunia sekarang ini kembali kita menjumpai bahwa perang terjadi karena politik bukan perang agama. Tidak diragukan bahwa kelompok-kelompok teroris dan ekstremis yang mengatasnamakan diri mereka dengan Islam untuk membenarkan tindakan kebencian mereka telah mengalami peningkatan. Selanjutnya, di beberapa negara mayoritas Islam kita temukan kekacauan dan gangguan mengalami peningkatan. Kemudian terdapat pemerintah Muslim tertentu yang melakukan pendekatan dengan sikap yang tidak adil. Bagaimanapun tiap kelompok tersebut berusaha menyesuaikan dengan Islam, tetapi sebenarnya tidak satupun dari mereka yang memiliki hubungan dengan ajaran sejati agama. Karena apa yang mereka perlihatkan tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Ajaran Islam dalam Membentuk Perdamaian

Jadi dengan jelas bahwa keberatan terhadap Islam dalam hal peperangan ini bisa terbantahkan dari fakta-fakta diatas. Sebaliknya jika kita lihat untuk konteks zaman sekarang era perang agama telah berakhir karena musuh-musuh Islam tidak lagi terlibat dalam peperangan fisik terhadap kaum Muslim. Sebaliknya pada  masa sekarang musuh-musuh Islam tidak lagi menggunakan pedang melawan Islam melainkan telah memanfaatkan berbagai sarana komunikasi yang tersedia untuk menyebarkan kebohongan dan propaganda palsu dalam upaya untuk menghentikan Islam. Oleh karena itu kewajiban setiap Muslim adalah menyampaikan contoh ajaran Islam yang benar ke seluruh dunia. Ini adalah cara untuk membantah lawan-lawan modern Islam. Hanya muslim yang menyatukan diri dengan Allah lah yang bisa menampakkan keindahan Islam yang sebenarnya pada dunia.

Dan merujuk kepada status Rasulullah saw sebagai Nabi universal, rahmatan lil alamin, maka kita sebagai umat Islam harus sadar akan tanggung jawabnya terhadap satu sama lain dan sadar untuk memenuhi hak-hak satu sama lain, karena ketika hak-hak masing-masing dipenuhi maka perdamaian dalam masyarakat dapat dibentuk, termasuk dunia yang lebih luas. Ini adalah jihad yang sebenarnya yang memerlukan perjuangan batin oleh manusia untuk mereformasi dirinya sendiri guna membangun hubungannya dengan Allah dan memenuhi hak-hak sesama manusia.

Alquran dari halaman per halaman dipenuhi dengan bimbingan dan didalamnya terhadap ratusan perintah yang telah diberikan. Sebagian besar berhubungan dengan hak-hak Allah, hubungan dengan makhluknya dan sarana untuk mambangun suasana perdamaian, cinta dan persatuan. Seperti telah dijelaskan bahwa dimana izin perang diberikan maka hal itu terbatas pada kondisi ekstrem tertentu dan tujuannya diberikan hanya untuk membela diri dan dalam rangka pembentukan perdamaian jangka panjang. Selain itu Islam sangat jelas mengajarkan bahwa segera setelah perdamaian tercipta kelompok yang telah dikalahkan tidak boleh dimanfaatkan atau diperbudak dan sumber penghasilan mereka tidak boleh dihentikan atau diambil alih secara tidak adil.

Perintah lain yang diberikan untuk pembentukan perdamaian masyarakat telah digambarkan dalam Surat 49 ayat 13 dimana dinyatakan bahwa orang beriman harus menghindarkan diri dari prasangka karena prasangka mengarahkan pada dosa. Ayat ini lebih jauh menyatakan bahwa seseorang tidak boleh memata-matai satu sama lain atau berupaya mengulik kesalahan orang lain. Di permukaan mungkin ini tampak seperti sebuah hal kecil dan tidak signifikan. Namun jika ajaran ini benar-benar diikuti maka hal ini akan mengarah pada perdamaian dalam masyarakat, baik dalam skala kecil maupun skala yang lebih luas.

Dalam skala yag lebih kecil kita mengetahui bahwa rumah tangga keluarga merupakan pondasi bangunan bagi masyarakat. Tetapi jika kita lihat keadaan masyarakat sekarang ini, sangat disayangkan di seluruh dunia banyak terjadi rumah tangga yang hancur dalam jumlah yang besar. Alasan mendasar hal itu seringkali terjadi karena prasangka antara suami istri atau terjadinya fitnah. Kemudian pada skala yang lebih luas kita mengetahui bahwa prasangka dan pikiran buruk terhadap orang lain adalah alasan utama mengapa hubungan antara kelompok yang berbeda atau negara menjadi hancur.

Hal lain yang Alquran terus tekankan adalah memenuhi hak-hak satu sama lain. Di Dalam Al-Qur’an Surat 83 ayat 1-3 Allah telah menyatakan bahwa mereka yang merampas hak-hak orang lain dan yang tidak adil dalam transaksi mereka akan dilaknat dan dihancurkan. Hal ini mengacu pada orang-orang yang ketika mengambil bagian untuk mereka, mereka berupaya untuk mengambilnya secara penuh namun ketika mereka mereka memberikan kepada orang lain, muncullah ketidakadilan dengan menguranginya dari yang seharusnya. Dengan demikian dalam beberapa baris Alquran telah menentang tindakan buruk dan jahat tersebut dan juga telah meletakkan dasar bagi perlindungan kehidupan, kehormatan dan martabat semua orang. Sebagai contoh dimana seseorang telah dianiaya atau diperlakukan tidak adil maka dalam reaksinya sangat memungkinkan baginya untuk membalas dengan balasan setimpal. Namun dalam bertindak ia seringkali gampang bertindak melampaui batas proporsional dan keadilan, dan bertindak berlebihan dalam membalas dendam. Oleh karena itu Allah taala telah memerintahkan bahwa untuk mencegah kesalahan seperti itu hak-hak orang lain tidak boleh dirampas, karena konsekuensinya berpotensi sangat serius dan berbahaya. Untuk mencegah hal-hal yang yang terjadi diluar keadaan proporsional Al-Qur’an telah memerintahkan agar semua pihak harus tetap adil dan proporsional dalam hubungan mereka. Mereka harus memberi dan menerima dalam ukuran yang sama. Melalui ajaran-ajaran demikian, hak-hak orang miskin dan kekurangan dijaga oleh Al-Qur’an, karena perintah ini memerlukan keadilan dan kejujuran terhadap semua. Jika prinsip-prinsip tersebut diperhatikan maka hal itu akan mengarah pada segmen masyarakat yang kehilangan kemampuan berdiri diatas kaki sendiri, agar mendapatkan kehormatan diri dan hidup dengan penuh martabat.

Hal penting lainnya yang diberikan oleh Alquran untuk pembentukan perdamaian dunia adalah bahwa jika dua pemerintahan Islam terlibat permusuhan dan perselisihan, maka pemerintah lain harus bersatu bersama-sama dalam upaya mendorong perdamaian. Jika dari negara berperang terjadi gencatan senjata tetapi kemudian salah satu pihak melanggar perjanjian atau terang-terangan menolak rencana perdamaian dan malah terang-terangan melanggarnya maka pada tahap itu pemerintahan yang lain harus secara bersama-sama menentang agresor tersebut. Negara-negara yang menjadi dalam keadaan seperti itu tidak boleh dibiarkan sendiri, sampai mereka dapat hidup damai kembali. Setelah itu jika agresor menyatakan mundur dan menerima kesalahannya dan berjanji untuk mematuhi perdamaian maka tidak boleh ada balas dendam dan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal, tidak menetapkan tuntutan yang tidak pantas dan tidak adil. Dengan demikian prinsip mendasar ketika berhadapan dengan hal-hal tersebut adalah harus bertindak dengan keadilan. Pedoman ini diambil dari Surah 49 ayat 9 dalam Al-Qur’an. Hal ini seharusnya tidak hanya dianggap sebagai pedoman bagi negara-negara Islam saja, karena sesungguhnya jika semua negara mengikuti pedoman ini maka keberatan-keberatan akan hilang. Sayangnya prinsip ini tidak dipegang dan diperhatikan selama dan setelah Perang Dunia Pertama dan karena itu pada akhirnya menyebabkan Perang Dunia II. Selama perang itu sekali lagi prinsip-prinsip ini tidak diperhatikan dan persyaratan keadilan tidak dipenuhi. Melihat sejarah masa lalu kita, jelas bahwa saat ini dasar bagi Perang Dunia sedang diletakkan.

Salam Zulfa Q

Pikiran Dasar Pendidikan Islam

by Zulfa Q

Manusia merupakan makhluk Allah swt. yang sempurna sesuai dengan tugas fungsi dan tujuan penciptaannya sebagai khalifah filard dan terbaik bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. kelebihan manusia bukan hanya sekedar berbeda susunan fisik, tapi juga lebih jauh adalah kelebihan aspek psikisnya dengan totalitas potensinya masing-masing yang sangat mendukung bagi proses aktualitas diri pada posisinya sebagai makhluk mulia. integritas kedua unsur tersebut abersifat aktif dan dinamis sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman di mana manusia berada. dengan potensinya material dan spiritual tersebut, menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt. yang terbaik.secara sistematis pada proposisinya pengetahuan yang mencerminkan pengembangan totalitas kepribadian manusia secara utuh. untuk mengoptimalisasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik maka, pendidikan harus mampu mengarahkan peserta didik pada pengembangan diri secara totalitas. Islam dengan ajaran yang universal tidak menghendaki adanya sistem pendidikan yang dikotomik parsial dalam menempatklan peserta didik baik teoritis maupun praktis peserta didik manawarkan sistem pensisikan yang integral dan mengempatkan sesuai dengan tuntutan yang digariskan oleh Allah SWT.

PENGERTIAN

Secara etimologi pemikiran berasal dari kata dasar pikir, berarti proses, cara atau perbuatan memikir yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijaksana. Dalam konteks ini pemikiran dapat diartikan sebagai upaya cerdas (ijtihady) dari proses kerja akal dan kalbu untukmelihat fenomena dan berusaha mencari penyelesaiannya secara bijaksana sedangkan pendidikan, secara umum berarti suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang (peserta didik) dalam usaha mendewasakan manusia (peserta didik),melalui upaya pengajaran dan latihan. Serta proses perbuatan dan cara-cara mendidik. Dengan berpijak pada definisi diatas. maka yang dimaksud dengan pemikiran pendidikan Islam adalah proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dan berupaya untuk membangun sebuah peradaban pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan peserta didik secara paripurna.

TUJUAN DAN KEGUNAAN

Secara khusus pemikiran pendidikan Islam memiliki tujuan sangat komplek diantaranya adalah :

  1. Untuk membangun kebiasaan berpikir ilmiah, dinamis dan kritis terhadap persoalan-persoalan di seputar pendidikan Islam.
  2. Untuk memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran Islam dan akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh intelektual diluar Islam.
  3. Untuk menumbuhkan semangat berijtihad, sebagaimana yang ditujukan oleh Rosulullah dan para kaum intelektual muslim pada abad pertama sampai abad pertengahan, terutama dalam merekonstruksi sistem pendidikan Islam yang lebih baik.
  4. Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.

AKAR PEMIKIRAN

Sejarah pendidikan sama usianya dengan sejarah manusia itu sendiri. keduanya tak dapat sipisahkan antara satu dengan yang lain. Manusia tidak akan bisa berkembang secara sempurna bila tidak ada pendidikan untuk itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar bagi meneruskan dan mengekalkan kebidayaan manusia. Disini, fungsi pendidikan berupaya menyesuaikan kebudayaan lama dengan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Wacana pemikiran pendidikan Islam masa nabi sudah tentu tidak sesistematis dan secanggih yang ada sekarang ini. Meskipun demikian perhatian umat terhadap ilmu pengetahuan jelas sangat tinggi dan hal ini terwujud sesuai dengan kemungkinan kondisi sosial waktu itu. Ketika di makkah, proses pendidikan Islam dilakukan Nabi dan para pengikutnya di dar al-arqam, sebagai pusat pendidikan dan dakwah. setidaknya ada empat alasan pentingnya pelacakan pendidikan dan sesudahnya, yaitu : pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat yang dinamis, ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda.bahkan pendidikan seringkali dijadikan tolak ukur layak atau tidaknya manusia menduduki dan melaksanakan amanat Allah sebagai khalifah fi al-ardh. sebagaimana firman Allah SWT.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa deraja”t. (Q.S. 28 : 11)

Munculnya dinamika penbaruan pemikiran pendidikan yang dilakukan sejumlah intelektual muslim dari masa ke masa, tidak terlepas dari kondisi objektif sosial-budaya dan sosial keagamaan umat Islam itu sendiri. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa dinamika pemikiran intelektual muslim merupakan hasil refleksi terhadap kondisi umat Islam pada zamannya. Sederetan intelektual muslim, sejak masa awal sampai pada era posmodernisme telah berupaya merekonstruksi guna terciptanya sistem pendidikan Islam yang ideal. kelompok intelektual muslim tersebut antara lain adalah :

  1. Ibnu Maskawih (Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub ibn Miskawih), lahir di rayy sekitar tahun 320 H./ 432 M. dan meninggal di isfaham pada tanggal 9 safar buwaihi yang berlatarbelakang mazhab syi’ah. Perhatiannya dalam menuntut ilmu sangat besar. Hal ini tercermin dari bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Dalam bidang sejarah umpamanya, ia belajar dengan Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-qadhi, filsafat dengan ibn al-khammar, dan kimia dengan Abu Thayyib. Pemikirannya tentang pendidikan lebih berorientasi pada pentingnya pendidikan akhlak. hal ini tercermin dari karya monumentalnya, Tahzib al-akhlaq. melalui karya tersebut Miaskawih menyetakan bahwa tujuan endidikan adalah terwujudnya sikap batin yang secara spontan mampu mendorong lahirnya perilaku dalam memperoleh kerimah-perilaku yang demikian akan sangat membantu peserta didik dalam memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan yang sejati.
  2. Ibn Sina (Abu Ali al-Husaiyn ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Sina) lahir pada tahun 370/ 980 di asyanah, Bukhara (dalam peta modern masuknya Turkistan) ia wafat oleh penyakit disentri pada tahun 428/ 1037 dan dimakamkan di Hamadan (sekarang dalam wilayah Iran). Hasil pemikiran dari Ibn Sina diantaranya :
  3. Falsafah wujud
  4. Falsafah Faidh
  5. Falsafah Jiwa
  6. Ibn Khaldum (Waliuddin Abdurrahman bin Muhamad bin Muhammad bin Hasan bin Jobir bin Muhammad binIbrahin bin Abdurrahman bin Walid bin Usman) lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo 25 Ramadhan 808 H/ 19 Maret 406 M.

Diantara stressing ruint pemikiran Khaldum adalah pada bidang pendidikan Islam dalam melaksanakan pendidikan, maka menurut Khaldum paling tidak ada dua tujuan yang perlu disentuh yaitu jasmaniah dan rohaniah.

  1. Muhammad Abdus ibn hasan Khairuddin, lahir pada tahun 1265 H/ 1849 M. Pada sebuah desa dipropinsi Gharbuyyah-ia lahir dari lingkungan petani sederhana yang taat dan sangat mencintai ilmu pengetahuan.

Menurut Abduh metode yang kuno sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan dewasa ini, sebab metode tersebut menurut tumbuhnya daya peserta didik dalam bukunya al- a’mal al-kamila Abduh menawarkan metode pendidikan yang lebih dinamis dan kondusif bagi pengembangan intelektual peserta didik. Metode yang di maksud adalah metode diskusi.

  1. Ismail raji al faruqi, lahir di Sayfa (palestina) pada tanggal 1 Januari 1921. Ia meninggal pada tanggal 1986. latar belakang pendidikannya ditempuh pada pendidikan barat yaitu Colege Des Peres (1936). Kemudian pendidikan pasca sarjana mudanya ia rampungkan pada America University (1941). Kemuudian program magisternya pada Indian University dan harvard University dalam bidang filsafat. sedangkan gelar doktor ia peroleh pada indian university dalam bidang yang sama.

Menurut analisis al-faruq umat Islam saat ini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan lemah, baik secara moral, politik, dan ekonomi terutama komunitas intelektual dalam wacana keagamaan, umat Islam terbelenggu oleh Khurafal, kondisi ini membuat umat Islam taqlid yang berlebihan terutama dalam aspek syariat. Kondisi ini membuat umat Islam berada dalam kondisi statis dan enggan melakukan kreativitas, ijtihad.

  1. Syed Muhammad Waquib al-attas dilahirkan di Bogor Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Paradigma pemikiran al-attas bila diaji secara historis merupakan sebuah pemikiran yang berasal dari dunia metafisika kemudian kedunia kosmologis dan mermuara pada dunia psikologis, perjalanan kehidupan dan pengalaman pendidikannya memberikan andil yang yang sangat besar dalam pembentukan paradigma pemikiran selanjutnya. Salam Zulfa

Generasi Salah

by Zulfa Q

Menjadi pegawai negeri sipil masih jadi incaran angkatan kerja di negeri ini. Timbul pertanyaan di benak kita, benarkah keinginan untuk menjadi pegawai negeri itu keluar dari hati nurani mereka sendiri? Pertanyaan itu sebenarnya terdengar sedikit konyol karena jawaban yang diinginkan tidak akan pernah ditemui. Sebab, bila kita mencoba bicara jujur pada diri sendiri, jawaban yang tersedia hanya akan membuat bumi pertiwi ini menangis. Hampir bisa dipastikan bahwa keinginan untuk menjadi seorang pegawai negeri semata hanya untuk mendapatkan masa depan yang lebih terjamin. Di akhir pengabdian seorang pegawai negeri akan menerima uang pensiun dan berbagai kemudahan jauh lebih terjamin dibanding bila bekerja pada sebuah swasta ataupun berwiraswasta sendiri. Baca lebih lanjut

Kritik Pendidikan Kita

by Zulfa Q

Diakui atau tidak, dunia pendidikan kita sungguh telah terperangkap ke dalam kemelut yang mungkin belum pernah terbayangkan semula. Kritik sistim dan bongkar-pasang kurikulum -seperti yang ditempuh selama ini- ternyata tak pernah memuaskan. Maka apa salahnya jika kita melirik kepada ideologinya. Mungkin di sana ada jawabnya. Baca lebih lanjut

Belajar Dari Masa Lalu

by Zufa Q

Sejarah pendidikan Islam erat kaitannya dengan sejarah Islam, karena proses pendidikan Islam sejatinya telah berlangsung sepanjang sejarah Islam, dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya umat Islam itu sendiri. Melalui sejarah Islam pula, umat Islam bisa meneladani model-model pendidikan Islam di masa lalu, sejak periode Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama-ulama sesudahnya. Alih-alih sejarah menyebut bahwa sebelum muncul sekolah dan universitas, sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sesungguhnya sudah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam non formal, diantaranya adalah masjid. Baca lebih lanjut

Pendidikan dalam Dunia Kerja

by Zulfa Q

Di era kontemporer ini banyak ditemukan model manajemen dan pembelajaran pendidikan. Munculnya beberapa model tersebut disebabkan oleh kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang semakin menonjolkan sisi modernitasnya. Sehingga dengan demikian manajemen dan pembelajaran dituntut untuk terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan manusianya. Baca lebih lanjut

AMANATUL UMMAH SURABAYA SEKOLAHKU YANG HEBAT

AMANATUL UMMAH SURABAYA SEKOLAHKU YANG HEBAT

Oleh : Zulfa Qur’ani

 

Karena PPAU :

  1. Mempersiapkan siswa yang cerdas, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memilki budi pekerti yang luhur, memilki pengetahuan dan keterampilan serta sehat jasmani dan rohani.
  2. Memberi kesempatan kepada siswa yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk mendapat pelayanan khusus, sehingga mempercepat perkembangan bakat dan minat yang dimilikinya.
  3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih cepat menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan, sesuai dengan ketentuan kurikulum
  4. Memberikan penghargaan bagi siswa yang berprestasi baik.
  5. Mempersiapkan lulusan menjadi siswa unggul dalam ilmu pengetahuan, budi pekerti dan keterampilan sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Disamping Itu PPAU :

  1. Diasuh oleh sejumlah pembimbing atau guru atau tutor yang profesional dan handal di bidangnya.
  2. Melaksanakan kurikulum dengan menekankan pada mata pelajaran Agama yang berstandart Al Azhar, Saint dan IT
  3. Didukung sarana dan prasarana yang memadai, antara lain :

1)      Madrasah yang nyaman dan representatif.

2)      Laboratorium IPA, Bahasa dan Komputer.

3)      Ruang Pusat Belajar Sekolah (PBS) multimedia yang dilengkapi dengan sistem audiovisual yang lengkap.

4)      Perpustakaan yang relevan dan ruang yang cukup luas untuk belajar sendiri.

5)      Ruang pengembangan minat dan bakat siswa lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan.

6)      Suasana belajar dan lingkungan yang kondusif.

7)      Buku belajar, diktat dan bank soal latihan yang menunjang.

8)      Waktu belajar lebih banyak.