Generasi Salah

by Zulfa Q

Menjadi pegawai negeri sipil masih jadi incaran angkatan kerja di negeri ini. Timbul pertanyaan di benak kita, benarkah keinginan untuk menjadi pegawai negeri itu keluar dari hati nurani mereka sendiri? Pertanyaan itu sebenarnya terdengar sedikit konyol karena jawaban yang diinginkan tidak akan pernah ditemui. Sebab, bila kita mencoba bicara jujur pada diri sendiri, jawaban yang tersedia hanya akan membuat bumi pertiwi ini menangis. Hampir bisa dipastikan bahwa keinginan untuk menjadi seorang pegawai negeri semata hanya untuk mendapatkan masa depan yang lebih terjamin. Di akhir pengabdian seorang pegawai negeri akan menerima uang pensiun dan berbagai kemudahan jauh lebih terjamin dibanding bila bekerja pada sebuah swasta ataupun berwiraswasta sendiri.

Selain itu, di mata keluarga yang ’PNS maniak’ sangatlah tidak sia-sia jika seorang anak, adik, keponakan, saudara dan sebagainya yang sudah bersusah payah mendapat gelar sarjana setelah selesai pendidikan bisa diterima menjadi pegawai negeri. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, sakit dahulu dan senang kemudian.

Kondisi ini terjadi karena lembaga pendidikan kita semata-mata menghasilkan angkatan kerja bermental kuli. Hingga kini sistem pendidikan nasional kita masih sekedar menyiapkan kebutuhan memenuhi pasaran lowongan pekerja. Para generasi muda, secara mental, dididik menjadi buruh-buruh. Visi lulusan siap latih yang dilahirkan pada dasarnya adalah kapasitas calon kuli, yang nasibnya sangat ditentukan dengan tersedianya lowongan kerja.

Lembaga pendidikan kita hanya melahirkan limbah pendidikan, yang bak gelombang berjalan dari tahun ke tahun. Jika ini terus-menerus, tanpa reorientasi, dikhawatirkan terlahir generasi terdidik yang tidak lebih sebagai limbah sosial. Hanya berharap pada lowongan kerja yang disediakan pemerintah, terutama menjadi pegawai negeri yang notabene bisa santai tapi terjamin.

Untuk itu, sudah saatnya sistem pendidikan di Indonesia diarahkan agar mampu menciptakan lulusan yang mempunyai jiwa mandiri, kreatif dan tangguh dalam menghadapi persaingan usaha. Agar perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan manusia pencari kerja, maka perencanaan pembangunan pendidikan tinggi harus diselaraskan dengan perkembangan lapangan kerja.

Perguruan tinggi harus kreatif, sebab kesempatan kerja sesungguhnya masih terbuka lebar. Sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan sebenarnya sangat membutuhkan ‘sentuhan’ lulusan perguruan tinggi meski dengan berwirausaha sendiri. Salam Zulfa Q

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s