Ayo Damai Timur Tengah

by Zulfa Qur’ani

Pada periode awal Islam, banyak Muslim yang disiksa dengan kejam dan brutal, dianiaya dan ditindas karena keimanan mereka oleh orang-orang kafir. Pria, wanita dan anak-anak semua menderita kekejaman mengerikan tersebut. Sebagai contoh beberapa Muslim sampai dibaringkan diatas bara panas, sementara yang lain dibaringkan diatas pasir yang terik dan batu ditindihkan diatas mereka. Kemudian terdapat beberapa Muslim sampai kakinya terkoyak, sehingga persis tubuh mereka menjadi dua bagian. Selama dua setengah tahun Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan semua sahabat beliau terpaksa bertahan di lembah, dimana mereka diboikot dan dijauhi dari masyarakat, sehingga mereka tidak memiliki akses untuk makanan, minum dan perbekalan lainnya. Selama berhari-hari mereka tetap dalam kelaparan dan kehausan. Anak-anak Muslim tanpa henti menangis dalam penderitaan dan putus asa. Tapi tetap saja orang-orang kafir tidak menunjukkan belas kasihan dan kasih sayang apapun. Dalam menanggung kekejaman dan pembatasan-pembatasan tersebut, umat Islam terkadang meminta izin kepada Nabi Muhammad saw untuk melawan dan membela diri dengan kekuatan mereka, namun pada setiap kesempaan Nabi Muhammad saw menolak setiap permintaan tersebut, dan sebagai gantinya beliau memberi nasihat supaya terus bersabar.

Adalah hal yang alamiah bahwa ketika seseorang mencapai titik dimana ia sadar bahwa maut telah mengintainya disetiap penjuru, dalam keadaan putus asanya itu dia akan mencoba untuk melawan dan membunuh lawannya sebelum meninggal. Namun seperti yang saya katakan pada setiap kesempatan Nabi Muhammad saw memerintahkan para pengikutnya untuk menahan diri dan bersabar meskipun mereka menghadapi keadaan yang sangat ekstrem. Beliau menasehatkan untuk bersabar karena beliau mengatakan bahwa Allah taala tidak mengizinkannya untuk melawan musuh-musuh Islam. Seorang orientalis Italia terkenal, Laura Veccia Vaglieri menulis tentang hal ini masalah ini dan membuktikan bahwa:

Setelah bertahun-tahun penindasan kejam dan berbagai intimidasi, sebagian besar umat Islam hijrah dari Mekkah. Kemudian setelah beberapa lama nabi Muhammad saw sendiri hijrah dengan para sahabatnya ke kota Madinah. Namun orang-orang kafir Mekkah tetap saja tidak membiarkan umat Islam untuk hidup damai bahkan setelah hijrah. Sekitar dua tahun kemudian orang-orang kafir menuju Madinah dan melancarkan serangan keji terhadap kaum Muslimin. Tujuan mereka hanyalah untuk menghapus Islam dan semua pemeluk Islam sekali dan untuk selamanya. Pasukan orang-orang kafir sangat besar dan kuat dan mereka datang dengan perlengkapan senjatan dan artileri yang besar. Sebagai perbandingannya hanya ada sekitar 300 orang Islam sedangkan kekuatan dan persenjataan mereka yang setara hampir tidak ada. Namun terlepas dari perbedaan signifikan dalam hal persiapan, pada waktu itulah Allah taala memerintahkan umat Islam untuk pertama kalinya melawan dan membela diri dari permusuhan dan kekejaman musuh. Izin ini disebutkan dalam Al-Qur’an Surah 22 ayat 39-40 yang berbunyi:

“Telah diizinkan bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Dan sesunngguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” . Dan sekiranya tidak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa.

Jadi, jelas bahwa Umat  Islam akhirnya diberi izin untuk membela diri terhadap musuh Islam adalah karena dalam kondisi tertentu yang ekstrim, namun demikian izin tersebut diberikan dalam kondisi tertentu yang menyertainya seperti terbukti dari ayat-ayat yang baru saja dikutip. Pertama, Allah taala menyatakan izin tersebut diberikan karena adanya kekejaman yang melampaui batas dan orang-orang Islam telah terusir dari rumah mereka. Mereka tidak hidup dengan damai bahkan setelah hijrah, sebaliknya musuh tanpa ampun mengikuti mereka dalam upaya untuk menghancurkan mereka sama sekali. Satu-satunya “kejahatan” yang dilakukan oleh Umat Islam yang tertindas adalah hanya karena mereka menyatakan keyakinan mereka terhadap Satu Allah dan menyembah-Nya. Selain itu ayat-ayat ini menjelaskan bahwa izin tersebut tidak hanya diberikan untuk melindungi umat Islam saja, melainkan meliputi pengikut semua agama supaya terlindungi dilindungi dan terjaga.

Sejarah menjadi saksi dari fakta-fakta bahwa Empat Khalifah Rasulullah saw telah menerapkan ajaran sejati beliau dan selalu memegang teguh ajaran Alquran sebagai prinsip pedoman mereka selama periode masing-masing khilafah. Tak satupun dari mereka yang pernah memprovokasi peperangan tunggal. Peperangan yang terjadi hanya untuk membela diri. Dalam peperangan selanjutnya yang diperjuangkan oleh para raja dan penguasa Muslim kenyataannya sangat sedikit yang merupakan perang agama, sebaliknya perang mereka berdasarkan perbedaan politik dan ambisi. Di dunia sekarang ini kembali kita menjumpai bahwa perang terjadi karena politik bukan perang agama. Tidak diragukan bahwa kelompok-kelompok teroris dan ekstremis yang mengatasnamakan diri mereka dengan Islam untuk membenarkan tindakan kebencian mereka telah mengalami peningkatan. Selanjutnya, di beberapa negara mayoritas Islam kita temukan kekacauan dan gangguan mengalami peningkatan. Kemudian terdapat pemerintah Muslim tertentu yang melakukan pendekatan dengan sikap yang tidak adil. Bagaimanapun tiap kelompok tersebut berusaha menyesuaikan dengan Islam, tetapi sebenarnya tidak satupun dari mereka yang memiliki hubungan dengan ajaran sejati agama. Karena apa yang mereka perlihatkan tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Ajaran Islam dalam Membentuk Perdamaian

Jadi dengan jelas bahwa keberatan terhadap Islam dalam hal peperangan ini bisa terbantahkan dari fakta-fakta diatas. Sebaliknya jika kita lihat untuk konteks zaman sekarang era perang agama telah berakhir karena musuh-musuh Islam tidak lagi terlibat dalam peperangan fisik terhadap kaum Muslim. Sebaliknya pada  masa sekarang musuh-musuh Islam tidak lagi menggunakan pedang melawan Islam melainkan telah memanfaatkan berbagai sarana komunikasi yang tersedia untuk menyebarkan kebohongan dan propaganda palsu dalam upaya untuk menghentikan Islam. Oleh karena itu kewajiban setiap Muslim adalah menyampaikan contoh ajaran Islam yang benar ke seluruh dunia. Ini adalah cara untuk membantah lawan-lawan modern Islam. Hanya muslim yang menyatukan diri dengan Allah lah yang bisa menampakkan keindahan Islam yang sebenarnya pada dunia.

Dan merujuk kepada status Rasulullah saw sebagai Nabi universal, rahmatan lil alamin, maka kita sebagai umat Islam harus sadar akan tanggung jawabnya terhadap satu sama lain dan sadar untuk memenuhi hak-hak satu sama lain, karena ketika hak-hak masing-masing dipenuhi maka perdamaian dalam masyarakat dapat dibentuk, termasuk dunia yang lebih luas. Ini adalah jihad yang sebenarnya yang memerlukan perjuangan batin oleh manusia untuk mereformasi dirinya sendiri guna membangun hubungannya dengan Allah dan memenuhi hak-hak sesama manusia.

Alquran dari halaman per halaman dipenuhi dengan bimbingan dan didalamnya terhadap ratusan perintah yang telah diberikan. Sebagian besar berhubungan dengan hak-hak Allah, hubungan dengan makhluknya dan sarana untuk mambangun suasana perdamaian, cinta dan persatuan. Seperti telah dijelaskan bahwa dimana izin perang diberikan maka hal itu terbatas pada kondisi ekstrem tertentu dan tujuannya diberikan hanya untuk membela diri dan dalam rangka pembentukan perdamaian jangka panjang. Selain itu Islam sangat jelas mengajarkan bahwa segera setelah perdamaian tercipta kelompok yang telah dikalahkan tidak boleh dimanfaatkan atau diperbudak dan sumber penghasilan mereka tidak boleh dihentikan atau diambil alih secara tidak adil.

Perintah lain yang diberikan untuk pembentukan perdamaian masyarakat telah digambarkan dalam Surat 49 ayat 13 dimana dinyatakan bahwa orang beriman harus menghindarkan diri dari prasangka karena prasangka mengarahkan pada dosa. Ayat ini lebih jauh menyatakan bahwa seseorang tidak boleh memata-matai satu sama lain atau berupaya mengulik kesalahan orang lain. Di permukaan mungkin ini tampak seperti sebuah hal kecil dan tidak signifikan. Namun jika ajaran ini benar-benar diikuti maka hal ini akan mengarah pada perdamaian dalam masyarakat, baik dalam skala kecil maupun skala yang lebih luas.

Dalam skala yag lebih kecil kita mengetahui bahwa rumah tangga keluarga merupakan pondasi bangunan bagi masyarakat. Tetapi jika kita lihat keadaan masyarakat sekarang ini, sangat disayangkan di seluruh dunia banyak terjadi rumah tangga yang hancur dalam jumlah yang besar. Alasan mendasar hal itu seringkali terjadi karena prasangka antara suami istri atau terjadinya fitnah. Kemudian pada skala yang lebih luas kita mengetahui bahwa prasangka dan pikiran buruk terhadap orang lain adalah alasan utama mengapa hubungan antara kelompok yang berbeda atau negara menjadi hancur.

Hal lain yang Alquran terus tekankan adalah memenuhi hak-hak satu sama lain. Di Dalam Al-Qur’an Surat 83 ayat 1-3 Allah telah menyatakan bahwa mereka yang merampas hak-hak orang lain dan yang tidak adil dalam transaksi mereka akan dilaknat dan dihancurkan. Hal ini mengacu pada orang-orang yang ketika mengambil bagian untuk mereka, mereka berupaya untuk mengambilnya secara penuh namun ketika mereka mereka memberikan kepada orang lain, muncullah ketidakadilan dengan menguranginya dari yang seharusnya. Dengan demikian dalam beberapa baris Alquran telah menentang tindakan buruk dan jahat tersebut dan juga telah meletakkan dasar bagi perlindungan kehidupan, kehormatan dan martabat semua orang. Sebagai contoh dimana seseorang telah dianiaya atau diperlakukan tidak adil maka dalam reaksinya sangat memungkinkan baginya untuk membalas dengan balasan setimpal. Namun dalam bertindak ia seringkali gampang bertindak melampaui batas proporsional dan keadilan, dan bertindak berlebihan dalam membalas dendam. Oleh karena itu Allah taala telah memerintahkan bahwa untuk mencegah kesalahan seperti itu hak-hak orang lain tidak boleh dirampas, karena konsekuensinya berpotensi sangat serius dan berbahaya. Untuk mencegah hal-hal yang yang terjadi diluar keadaan proporsional Al-Qur’an telah memerintahkan agar semua pihak harus tetap adil dan proporsional dalam hubungan mereka. Mereka harus memberi dan menerima dalam ukuran yang sama. Melalui ajaran-ajaran demikian, hak-hak orang miskin dan kekurangan dijaga oleh Al-Qur’an, karena perintah ini memerlukan keadilan dan kejujuran terhadap semua. Jika prinsip-prinsip tersebut diperhatikan maka hal itu akan mengarah pada segmen masyarakat yang kehilangan kemampuan berdiri diatas kaki sendiri, agar mendapatkan kehormatan diri dan hidup dengan penuh martabat.

Hal penting lainnya yang diberikan oleh Alquran untuk pembentukan perdamaian dunia adalah bahwa jika dua pemerintahan Islam terlibat permusuhan dan perselisihan, maka pemerintah lain harus bersatu bersama-sama dalam upaya mendorong perdamaian. Jika dari negara berperang terjadi gencatan senjata tetapi kemudian salah satu pihak melanggar perjanjian atau terang-terangan menolak rencana perdamaian dan malah terang-terangan melanggarnya maka pada tahap itu pemerintahan yang lain harus secara bersama-sama menentang agresor tersebut. Negara-negara yang menjadi dalam keadaan seperti itu tidak boleh dibiarkan sendiri, sampai mereka dapat hidup damai kembali. Setelah itu jika agresor menyatakan mundur dan menerima kesalahannya dan berjanji untuk mematuhi perdamaian maka tidak boleh ada balas dendam dan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal, tidak menetapkan tuntutan yang tidak pantas dan tidak adil. Dengan demikian prinsip mendasar ketika berhadapan dengan hal-hal tersebut adalah harus bertindak dengan keadilan. Pedoman ini diambil dari Surah 49 ayat 9 dalam Al-Qur’an. Hal ini seharusnya tidak hanya dianggap sebagai pedoman bagi negara-negara Islam saja, karena sesungguhnya jika semua negara mengikuti pedoman ini maka keberatan-keberatan akan hilang. Sayangnya prinsip ini tidak dipegang dan diperhatikan selama dan setelah Perang Dunia Pertama dan karena itu pada akhirnya menyebabkan Perang Dunia II. Selama perang itu sekali lagi prinsip-prinsip ini tidak diperhatikan dan persyaratan keadilan tidak dipenuhi. Melihat sejarah masa lalu kita, jelas bahwa saat ini dasar bagi Perang Dunia sedang diletakkan.

Salam Zulfa Q

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s