Kewajiban Muslim Terhadap al Quran

Ikhwan sekalian, sebagaimana saya katakan sebelumnya, sikap kebanyakan manusia pada masa sekarang ini terhadap kitab Allah ibarat sekelompok manusia yang diliputi kegelapan dari segala penjuru. Mereka kebingungan, berjalan tanpa petunjuk apa pun. Kadang-kadang mereka jatuh ke jurang, kadang-kadang membentur batu, dan kadang-kadang saling bertabrakan.

Keadaan mereka terus demikian, tersesat membabi buta dan berjalan dalam kegelapan yang pekat. Padahal di hadapan mereka ada sebuah tombol elektrik yang andaikata mereka tekan dengan jari, maka dengan gerakan sedikit saja dapat menyalakan sebuah lampu yang terang-benderang.

Inilah Ikhwan sekalian, perumpamaan umat manusia sekarang dan sikap mereka terhadap kitab Allah. Umat manusia di seluruh dunia saat ini tersesat: dalam kegelapan yang pekat. Seluruh alam berjalan tanpa petunjuk. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, maka sebentar saja sistem itu akan hancur berantakan.

Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Quran al-Karim, kitab Allah swt.

Bak unta mati kehausan di padang pasir

Sedangkan air terpikul di atas punggungnya

Mereka tidak mendapatkan jalan petunjuk, padahal di hadapan mereka ada cahaya yang sempurna.

“Tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 15-16)

“Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.”(Ibrahim: 1)

“Maka berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (At-Tagbabun: 8)

Ikhwan sekalian….

Kembali saya ingin katakan bahwa barangkali suatu hal yang wajar jika orang-orang kafir yang mata mereka belum dibuka untuk melihat cahaya ini, berjalan tanpa petunjuk dalam kehidupan mereka. Ini logis dan dapat diterima, karena Allah swt. berfirman:

“Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka ia tiada memiliki cahaya sedikitpun.” (An-Nur: 40)

Sebagaimana pula halnya dengan orang-orang mukmin yang mengimani, membenarkan, mencintai, menghormati dan mengagungkannya, yang tidak ada satu pun dari rumah-rumah mereka dan tidak satu pun dari kantong-kantong baju mereka yang tidak terdapat mushaf dari Kitabullah.

Ikhwan sekalian…

Orang-orang kafir telah menipu mereka dengan cahaya itu, menjauhkan mereka dari petunjuk, menyesatkan mereka dari jalan, dan menjauhkan tangan mereka dari sumber mulia dan dari tombol elektrik ini; kadang-kadang dengan jerat politik di saat lain dengan parangkap ilmu duniawi.

“Mereka hanya mengetahui kehidupan dunia yang lahir, sedangkan tentang kehidupan akhirat mereka lalai.” (Ar-Rum: 7)

Mereka terus memperdayakan; terkadang dengan harta benda, kadang-kadang melalui hawa nafsu, kadang-kadang dengan tipu muslihat, dan di saat lain dengan kekuatan, paksaan, dan kekejaman.

Wahai Ikhwan sekalian…

Semua sarana ini terus digunakan para penganut kekafiran. Orang-orang kafir itu menjauhkan manusia dan kaum muslimin dari petunjuk. Sekian lamanya kaum muslimin mengikuti dan berlari di belakang kesesatan mereka. Akibatnya, mereka lupa kepada sumber petunjuk ini dan mengekor saja di belakang orang-orang kafir. Padahal Allah swt. telah memperingatkan mereka dari tindakan itu.

“Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lantas jadilah kalian orang-orang yang merugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindung kalian, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran: 149-150)

Ikhwan sekalian…

Karena Allah mengetahui bahwa orang-orang kafir terkadang mengintimidasi orang-orang beriman dengan kekuatan yang mereka miliki, maka Allah swt. ingin mencabut pengaruhnya dari hati kaum muslimin.

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurun-kan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan alangkah buruknya tempat kembali orang-orang yang zhalim.” (Ali Imran: 151)

Kemudian Allah swt. menyebutkan peristiwa nyata untuk menjadi pengiring bagi dalil yang tegas itu.

“Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia bagi orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 152)

Ikhwan sekalian…

Demikianlah. Allah swt. memperingatkan orang-orang mukmin dengan Al-Qur’an, jangan sampai mereka mengikuti jalan orang-orang kafir atau tertipu oleh tipu muslihat dan trik-trik mereka.

“Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman.” (Ali Imran: 100)

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (Ali Imran: 102-103)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menaati orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kalian orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 149)

Orang-orang kafir itu diciptakan dengan memiliki watak menipu dan memperdaya orang-orang beriman.

“Sebagian besar Ahli Kitab berkeinginan untuk mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman karena kedengkian (yang timbul) dari diri mereka, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109)

“Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kalian dan mereka sama.” (An-Nisa’: 89)

“Jika mereka menangkap kalian, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti, dan mereka ingin supaya kalian menjadi kafir.” (Al-Mumtahanah: 2)

Ikhwan sekalian…

Jelas sekali bahwa dada mereka tidak akan terbebas dari keinginan ini, yaitu keinginan agar orang-orang beriman kembali menjadi kafir.

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian jika mereka mampu.” (Al-Baqarah: 217)

Ini merupakan ilustrasi yang tepat mengenai perasaan orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman. Sekalipun demikian, orang-orang yang beriman didominasi oleh rasa toleransi, sehingga mereka melupakan peringatan ini.

“Beginilah kalian ini. Kalian mencintai mereka padahal mereka tidak mencintai kalian, dan kalian beriman kepada semua kitab. Jika berjumpa dengan kalian, mereka berkata, ‘Kami beriman.’ Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci kepada kalian. Katakanlah, ‘Mampuslah kalian karena kemarahan kalian itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kalian memperoleh kebaikan, mereka bersedih hati, tetapi jika kalian ditimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak membahayakan kalian sedikit pun. Sesungguhnya Allah mengetahui segala yang mereka kerjakan.” (Ali Imran: 119-120)

Meskipun ada peringatan semacam ini dan kitab Allah telah mengungkap keadaan jiwa mereka sedemikian rupa, namun setelah ini semua, kita tetap menjerumuskan diri kita ke jurang dan berjalan mengikuti orang-orang kafir. Bagaimana tidak, kita masih berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang kafir, padahal mereka menipu kita dengan segala sarana dan cara. Cahaya ini memang tidak dimiliki oleh orang-orang kafir, namun mereka cukup bergembira bilamana berhasil menjauhkan kita darinya.

Bagaimanakah kondisi yang terjadi sekarang, wahai Ikhwan sekalian? Kondisi yang terjadi adalah, orang-orang kafir tidak percaya kepada cahaya ini, sedangkan orang-orang beriman tidak mengetahuinya.

Kondisi ini sungguh ironis. Kondisi yang membawa manusia kepada segala macam penderitaan. Karena itu, orang-orang yang telah mengambil petunjuk Al-Qur’an wajib menyelamatkan diri sendiri sekaligus orang lain.

Lantas apakah kewajiban kita sebagai orang yang telah beriman kepada Al-Qur’an?

Ikhwan sekalian…

Kewajiban kita terhadap Al-Qur’an al-Karim ada empat:

1. Hendaklah kita memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah swt. ini. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an Al-Karim pasti bakal menuai kegagalan.

Misalnya, banyak orang mengatasi problema ekonomi dengan terapi tambal sulam, “tidak menggemukkan dan tidak pula sekadar menghilangkan lapar”. Sementara Al-Qur’an Al-Karim telah menggariskan aturan tentang zakat, mengharamkan riba, mewajibkan kerja, melarang pemborosan, sekaligus menanamkan kasih sayang antar sesama manusia.  Dengan arahan semacam problema kemiskinan tentu dapat segera dipecahkan. Tanpa solusi ini, tidak mungkin terpecahkan. Selain model ini, solusi hanya ibarat pil penenang sementara.

Contoh lain adalah problem kesehatan. Ikhwan sekalian, kalian mendapati mereka ibarat orang yang membuka kran berdiameter tiga milimeter, sedangkan di bawahnya terdapat bak yang berdiameter tiga meter. Mereka membuat rumah-rumah sakit keliling dan klinik-klinik kesehatan, tetapi akar penyakit tidak diberantas. Misalnya, taraf hidup yang masih rendah. Padahal Islam menghendaki peningkatan taraf hidup dan pemberantasan berbagai kemungkaran.

Rasulullah saw bersabda:

“Tidaklah perilaku keji terlihat nyata di tengah-tengah suatu kaum, sehingga mereka sendiri memperlihatkannya, kecuali akan banyak penyakit menular menimpa mereka, yang tidak pernah menimpa orang-orang sebelum mereka”.

Ikhwan sekalian….

Contoh lain misalnya pemberantasan kriminalitas. Apakah kita akan menjebloskan pencuri ke penjara agar ia mengasah keahliannya kepada dedengkot-dedengkot kriminalitas sehingga semakin lama masa tinggalnya di penjara, semakin tinggi pula keahliannya dalam melakukan tindak kriminal? Andaikata nash Al-Qur’an berikut ini diambil, “Atau diasingkan dari negeri (tempat kediamannya)”, niscaya hal ini akan memberi-kan banyak manfaat kepada negara.

Bagaimana pendapat Anda jika sistem ini diterapkan secara keseluruhan?

Ikhwan sekalian….

Solusinya hanya Islam.

Islam tidak menerima persekutuan. Karena itu, kita wajib percaya bahwa hanya Islam yang layak menyelamatkan umat ini dari setiap bencana yang menimpa dalam seluruh aspek kehidupan.

2. Maka dari itu, kaum muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah swt. melalui Qur’an.

Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum Salaf, semoga Allah meridhai mereka. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al-Qur’an Al-Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu, sehingga Rasulullah saw. harus turun tangan untuk melarang mereka berlebihan di dalamnya. Setidaknya, Saudaraku, hendaklah kita membaca Al-Qur’an secara rutin, meskipun sedikit. Sunah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari.

Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa membaca satu ayat dari Kitabullah, maka ia memperoleh sepuluh kebaikan untuk setiap huruf. Barangsiapa mendengarkannya, maka itu akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.”

Orang yang telah menghafalkan Al-Qur’an kemudian melupakannya, ia telah melakukan satu dosa besar. Karena itu, Ikhwan sekalian, Anda harus rajin membaca Al-Qur’an Al-Karim dan menetapkan bacaan rutin dari kitab Allah swt. untuk diri Anda. Hendaklah kalian tekun melaksanakannya, sebagai peneladanan terhadap para pendahulu umat ini, sebagai pelaksanaan perintah Allah swt. dan agar mendapatkan manfaat dari kandungan kitab-Nya.

3. Setelah itu, ketika membaca Al-Qur’an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya dan ketika mendengarkan kita juga harus memperhatikan adab-adab mendengarnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya.

Rasulullah saw bersabda:

”Sesungguhnya Al-Qur’an ini turun dengan kesedihan, maka jika kamu membacanya, hendaklah kamu menangis, jika kamu tidak menangis, maka buatlah seolah-olah dirimu menangis.”

Akhi, ini artinya adalah, bahwa jika hati Anda belum dapat konsentrasi sampai pada tingkat menghayatinya, hendaklah Anda berusaha untuk menghayatinya. Janganlah setan memalingkan Anda dari keindahan perenungan sehingga Anda tidak mendapatinya. Tekunlah!

Andaikan dalam membaca Anda hanya dapat menggerakkan lidah, tetap bacalah! Hendaklah Anda menyediakan waktu untuk menghafal dan mengulang. Usahakan agar Anda benar-benar meresapi kandungan makna Al-Qur’an.
Banyak riwayat menceritakan bahwa pada suatu malam Umar bin Khathab ra. pergi berkeliling kota. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang membaca,

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi bukit Thur. Dan demi kitab yang ditulis. Pada lembaran yang terbuka. Dan demi Baitul Makmur. Dan demi atap yang ditinggikan (langit). Dan demi laut yang di dalam tanahnya ada api. Sesungguhnya siksa Tuhanmu pasti terjadi. Tidak ada yang dapat mencegahnya.” (At-Thur: 1-8)

Ketika mendengar bacaan ini, beliau berkata, “Inilah sumpah yang benar, demi Tuhan Pemilik Ka’bah.” Beliau lantas tersungkur pingsan. Beliau digendong oleh seorang sahabat yang bernama Aslam dan dibawa ke rumahnya. Beliau sakit selama tiga puluh hari, dijenguk oleh masyarakat.

Akhi fillah….

Demikian halnya dengan Umar bin Abdul Aziz. Suatu ketika beliau datang ba’da isya’. Beliau lantas berwudhu dan berdiri melaksanakan shalat. Beliau membaca, “(Kepada malaikat diperintahkan) kumpulkanlah orang-orang zhalim dan teman sejawat mereka beserta apa yang selalu mereka sembah, selain Allah. Lantas tunjukkan kepada mereka jalan menuju neraka Jahim. Dan hentikan mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya.” (Ash-Shafat: 22-24) Beliau terus mengulang-ulang ayat, “Dan hentikanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya,” sampai muadzin datang untuk mengumandangkan adzan subuh.

Demikianlah, Ikhwan sekalian, penghayatan mereka terhadap kitab Al-Qur’an Al-Karim.

Pada zaman Imam Syafii, jika mereka ingin meresapi kitab Allah di Mekah, mereka mengirimkan surat kepada beliau, agar beliau membacakan kitab Allah. Beliau tidak pernah terlihat menangis, seperti pada hari tersebut. Hendaklah kita juga membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang membuahkan. Jika Al-Qur’an ini dapat menyentuh hati orang-orang kafir, yang merupakan manusia paling jauh kemungkinannya untuk menghayati kitab Allah, maka bagaimana pula dengan kita?

Lihatlah Utbah bin Rabi’ah (seorang kafir), ketika mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah saw., ia berkata, “Sesungguhnya bacaan ini mengandung kelebatan dan keindahan. Atasnya membuahkan, bawahnya menyejukkan. Sungguh, ini bukan perkataan manusia. “

Begitu pula yang terjadi pada Najasyi dan kaumnya ketika mendengar Ja’far bin Abu Thalib membaca Al-Qur’an. Sekonyong-konyong mata mereka dialiri oleh air mata.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang beriman? Seharusnya, ketika orang-orang beriman membaca kitab Allah swt. adalah sebagaimana yang difirmankan-Nya,

“Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan, yaitu Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang; gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang pada waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya.”(Az-Zumar: 23)

4. Akhi, setelah kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah satusatunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya.

Hukum-hukum Al-Qur’an Al-Karim menurut yang saya ketahui, terbagi menjadi dua:

a. Hukum-hukum individu yang berkaitan dengan masing-masing orang, seperti shalat, puasa, zakat, haji, tobat, serta akhlaq, yang meliputi kejujuran, menepati janji, kesaksian, dan amanah. Ini semua, wahai Saudaraku, merupakan hukum-hukum yang berhubungan dengan manusia secara umum. Setiap orang dapat melaksanakannya sendiri. Ketika Anda membaca Al-Qur’an, Anda harus mematuhi hukum-hukum dan batasan-batasannya. Barangsiapa yang belum pernah shalat, kemudian membaca firman Allah swt., “Dan dirikanlah shalat,” (An-Nur: 56) maka ia harus melaksanakan shalat.

Dan ketika membaca, “Dan jangan-lah kamu mengurangi takaran dan timbangan manusia,” (Al-A’raf: 85) maka Anda harus memenuhi hak setiap orang. Seharusnya Anda tidak perlu menunggu orang lain untuk melaksanakan hal ini. Sesuatu yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.

b. Kedua adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat, atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa. Ini semua merupakan kewajiban negara, misalnya menegakkan hudud (sanksi hukum), jihad, dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam. Negara wajib melaksanakannya. Jika negara tidak melaksanakan-nya, ia bertanggung jawab di hadapan Allah swt.

Kewajiban rakyat dalam keadaan demikian adalah menuntut pelaksanaannya. Sesungguhnya Islam tidak membebaskan umat dari tanggung jawab.

Sekarang, bagaimana umat dapat mewujudkan hal ini? Hendaklah umat bersatu padu. Hendaklah umat menyatukan kata, menuntut, dan terus menuntut. Hendaklah umat menggunakan segala cara untuk menyampaikan tuntutan ini, khususnya jika sistem kenegaraan yang berlaku seperti sistem kenegaraan di Mesir.

Jika demikian, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak menyatakan hal ini dengan terus terang. Umat tidak dapat dilepaskan dari kewajiban mengawasi negara.

Ikhwan sekalian…

Hendaklah kita menyatukan barisan dan menyatukan kata, sehingga kita menjadi kuat, diperhitungkan, dan mempunyai suara agar negara dapat memandang kenyataan yang ada. Dengan demikian, cepat atau lambat kita akan sampai kepada tujuan, insya Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s